Ujian yang Sebenarnya

24 03 2009

Astaghfirullah, kemudian Alhamdulillah.

Kata itu terucap ketika gue melirik nilai hasil ujian blok 1 semester dua ini. Padahal di tahun sebelumnya alhamdulillah ujian dapat terlewati dengan baik dan hati yang tenang. Sekarang kenapa ya? Perlahan-lahan nilai-nilai gue menurun. Apa ada yang salah dengan cara belajar gue? Atau gue yang belum cukup pintar dan dewasa dalam membagi waktu? Aaah. Gue jadi stres sendiri. Gue cuma ga ingin ngecewain bapak dan bisa menjadi contoh buat adek2 gue. Tapi kesannya seperti gue tidak mensyukuri apa yang gue dapet. Tentunya dengan hasil kejujuran dan izin dari Allah. Kayanya gue terlihat rakus dengan perasaan ingin nilai ‘lebih’! Padahal apa yang telah gue peroleh pasti adalah yang terbaik. Tidak mungkin Allah ingin menjerumuskan hamba-Nya. Atau mungkin kegagalan ini merupakan ujian dari-Nya buat gue agar gue introspeksi diri dan menjadi lebih baik di ujian berikutnya? Semoga memang begitu. Menerima dengan ikhlas dan hati lapang atas segala pemberian dari Nya, juga selalu ikhtiar serta tawakkal. Sebaiknya gue menyadari ini adalah ujian yang sebenarnya sejak dini. Supaya ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.

-introspeksi, optimis, tawakkal, ikhlas. Nas, kamu bisa!


Actions

Information

2 réponses

28 03 2009
Pritha

Hai Nasha…
Ngeliat postingan kamu, aku jadi ngeh bahwa Nasha yg skarang lagi bener2 jadi seorang remaja. Yaa, dengan nilai yang nurun karena banyak kegiatan dan ngerasa gag bsia bagi waktu tapi tetap pengin mempertahankan prestasi… It’s so teenager, dear.
Yg penting kmu selalu berusaha, insya Allah selalu ada ajlan untuk menjadi yg terbaik :)

29 03 2009
nashong

makasi banyak ya ka pritha.. aaaaamiin.. emang nih harus pinter-pinter bagi waktu. haduh haduh. ka pritha sama ka ippen apa kabar?

Laisser un commentaire