The New Chapter

29 06 2011

Setelah sekian lama mencoba untuk kembali percaya dengan perasaan dan hati, akhirnya bisa kembali kuat dan bangkit. Berhasil menghapus semua rasa sakit yang pernah ada. Ini diri saya yang baru. Walaupun pada awalnya ragu untuk memulai, ragu untuk membuka hati. Namun, dia datang, dengan segala kesederhanaan dan kabaikan hatinya. Orang yang tidak pernah diduga. Awalnya tidak pernah ada sepatah kata terucap. Hanya takut dan malu yang terasa. Tidak pernah berbicara. Sampai suatu ketika waktu memberikan kesempatan. Kami menyapa, bertemu pandang, dan tersenyum. Hati terenyuh saat menyadari senyumnya. Tak pernah disangka, senyum akan dibalas dengan senyum olehnya. Namun lidah masih kelu, jiwa pengecut meraja. Dipupuk keberanian untuk menyapanya, dengan hati bergemuruh bak gunung berapi mau muntahkan laharnya. Karena lidah kelu tak bertulang, salah lah kata terucap. Makian yang keluar tak dapat ditarik kembali. Aku memikirkan kebodohanku berhari-hari. Namun siapa sangka? Aku benar-benar menaruh hati padanya. Tidak bisa ditolak, tidak bisa dipungkiri. Awalnya meronta, melawan. Ternyata semakin hari semakin besar rasanya. Dia sangat baik. Hatinya bak lautan tenang yang biru, sejuk, dan indah. Semua orang nyaman berlayar di sana. Begitu baiknya sampai aku jijik dengan diri sendiri. Mengapa aku harus sedih melihatnya disandari sahabatku? Mengapa aku sedih ketika ia menatap sahabatku? Aku tidak ingin berpura-pura bodoh lagi. Ternyata bodoh sekali kalau aku sadar bahwa aku memang benar-benar jatuh cinta. Apa daya? Bodohnya aku tidak berani berbicara dengannya, tapi merasa sakit dengan alasan yang tidak bisa menjadi alasan. Aku bukan siapa-siapanya!

Sungguh suatu rahmat dari Allah, bahwa aku bisa berbicara dengannya. Kesempatan yang luar biasa! Semakin lama tak disangka-sangka, kami menjadi lebih dekat. Namun aku ragu. Apa ini hanya permainan peran sebagai kakak dan adik? Aku mencoba meyakinkan hati bahwa bukan seperti itu yang aku mau. Tapi bagaimana dengannya? Bisa saja kan. Ah terserah lah. Tak peduli aku terhadap pikiran itu. Namun ternyata, aku sadar bahwa ini memang bukan tentang kakak dan adik. Sampai suatu ketika malam yang begitu dingin menusuk, menggetarkan seluruh gigi dan tulang rusukku. Kami duduk dan saling bertanya. Lampu temaram menghiasi malam itu. Aku tertarik dengan pertanyaannya tentang ‘frame’. Dia berkata, “Mungkinkah dua orang yang berbeda bisa berada di frame yang sama?” Awalnya aku tidak mengerti. Aku jawab dengan rasa sok tahuku, “Sepertinya tidak”. Segera ia mengeluarkan puzzle yang setengah jadi. Tertegun aku saat menyadari bahwa puzzle yang hampir jadi itu adalah foto separuh wajahku. Aku terdiam. Dia mengajukan aku suatu penawaran. Layaknya Bapak melamar Ibuku dahulu. Aku bingung, tak tahu harus bicara apa. Ternyata ia memberi pilihan. Bila “Ya” maka lengkapi puzzle itu dengan puzzle berpola wajahnya. Bila “tidak” puzzle itu akan selesai dan lengkap dengan gambar rupaku yang utuh. Aku mencoba kembali meyakinkan diri untuk memilih yang mana. Meskipun sebenarnya jawaban itu sudah ada. Aku hanya ingin memastikan dan tidak salah. Dan pada akhirnya perasaan ini menang. Puzzle itu tampak serasi dengan bagian rupaku dan rupanya.

Semoga ini menjadi awal cerita yang baru. Mengenai akhir dari cerita? Biarlah ini mengalir dan alami. I’ll try my best, dear.





Jangan Ambruk Dong!

21 12 2009

Since every end is just another begining. Just think what we could do to start a new life and reach our dreams. Let the others leave you alone, but don’t ever let your dream disappear.

*dikutip dari majalah

terima kasih ya Allah, jika ini jalan terbaik yang memang Kau berikan untukku. Semoga aku bisa lebih kuat, tegar, dan dewasa, aaaamiin.





Rasa Syukurku

15 11 2009

Alhamdulillah,

Terima kasih ya Allah atas segala nikmat dan anugrah yang Engkau berikan kepadaku, selama hidupku.  terima kasih ya Allah, Engkau pula yang telah menititpkan perasaan indah yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Perasaan yang terlalu indah untukku. Betapa bahagianya aku hingga saat ini masih merasakannya, merasakan getaran hati yang meletup-letup, merasakan haru dan pilu, serta indahnya perasaan untuk bisa menyayangi dan disayangi. Semoga perasaan ini membuatku semakin dewasa dan melatih diriku untuk bisa memperbaiki kekurangan yang ada padaku. Semoga apa yang saat ini sedang terjadi padaku, akan berujung di akhir penantianku. Pada akhirnya Engkau yang akan mengizinkanku meraih semua impian dan kebahagiaan untukku. aaaaaaamiin..

Terima kasih ya Allah, tak habis rasa syukurku pada-Mu.

 

I feel like a song without the words
A man woman without a soul
A bird without its wings
A heart without a home
I feel like a knight without a sword
The sky without the sun
Cause you are the one
I feel like a ship beneath the waves
A child who’s lost its way
A door without a key
A face without a name
I feel like a breath without the air
And every day’s the same
Since you’ve gone away
 
I gotta have a reason to wake up in the morning
You used to be the one that put a smile on my face
There are no words that could describe how I miss you
And I miss you everyday yeah
And I’m never gonna leave your side
Still holding on girl  boy
I won’t let you go
Cause when I’m lying in your arms
I know I’m home
They tell me that a man can lose his mind
Living in the pain
Recalling times gone by
And crying in the rain
You know I’ve wasted half the time
And I’m on my knees again
Till you come to me yeah
I gotta have a reason to wake up in the morning
You used to be the one that put a smile on my face
There are no words that could describe how I miss you
And I miss you everyday yeah
And I’m never gonna leave your side
*never gonna leave your side – daniel bedingfield




dia demam berdarah

3 05 2009

hari selasa siang, wajahnya terlihat pasi. ia bilang mau ke uks untuk istirahat sejenak. saya khawatir dan langsung membopongnya ke uks. tak biasanya ia terlihat selemah ini. setibanya di uks, terasa dahinya panas, sepanas ceret di atas kompor. ia demam, tinggi sekali. astagfirullah. tapi dia tidak ingin pulang, nanti saja katanya. lalu ia tidur dengan meringkuk dengan selimut. saya sungguh khawatir. saya terpaksa meninggalkannya karena bel pergantian pelajaran telah berbunyi. dua jam kemudian, setelah pelajaran berakhir, saya segera ke uks. astagfirullah, panasnya tidak turun! yang saya rasakan, panasnya semakin menjadi-jadi. ketika pulang, ia bilang ingin ditemani makan, tapi ketika makanan yang kami pesan datang, ia tidak segera makan, ternyata ia tidak kuat mengangkat sendoknya. sudah terlalu lemas. akhirnya stelah makanan itu dibungkus, kita segera pulang. saya mengantarnya untuk mencari taksi. karna rumah kami beda arah, saya hanya menumpang taksi itu sampai pangkalan jati. ketika smpai rumah ia muntah-muntah. keesokan harinya saya dan teman2 menjenguk ke rumahnya. dia terlihat begitu lemah dan tidak berdaya. hari kamis malam ia cek darah di lab, ternyata ia terkena demam berdarah. trombositnya turun. saya khawatir, ketar-ketir. ya Allah. alhamdulillah ia segera dirawat di mitra internasional. tadi saya dan ibu saya menjenguknya, saya terkejut. dia masih terlihat sedikit pucat dan badannya yang agak mengurus. bibirnya pecah2 dan kering. tak tega saya melihatnya, saya ingin sekali tidak cepat2 pulang dan duduk disampingnya lalu menemani ia hingga sembuh. tapi saya tidak bisa. ibu saya tidak mengizinkan. sesampainya saya dirumah, ia mengabari saya bahwa trombositnya turun lagi. sekarang menjadi 79. ya Allah..

cepat sembuh ya man, semoga trombosit kamu cepat kembali seperti semula. aaaaamiin ya Allah.  get well soon, cher.





EARTH HOUR; what do you count

29 03 2009

Kemarin Sabtu, tanggal 28 Maret 2009, serentak di seluruh bagian dunia berpartisipasi dalam rangka penyelamatan bumi dengan mematikan lampu dan listrik yang tidak digunakan selama 60 menit. Indonesia, khususnya Jakarta, menyatakan ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Beberapa gedung bersedia mematikan lampu-lampu dan begitu juga dengan beberapa perumahan di jakarta.

Meskipun di Bekasi tidak ada sosialisasi tentang earth hour ini, namun rumah gue turut berpartisipasi lho. tepat pukul 20.30, hampir semua lampu di rumah gue mati. Kalau dilihat-lihat, rumah gue mendadak kayak rumah hantu, hahaha. tapi asik juga lho, gue sama adek gue naik ke teras atas dan melihat pemandangan sekitar. Coba saja penduduk Indonesia mematikan lampu mereka satu jam saja setiap hari, maka kita bisa menghemat energi hingga persentasi yang sangat besar. Sambil menunggu satu jam, gue main uno sama adek gue, cerita-cerita sama mama dan bapak, makan cemilan sama-sama, waah seru deh. Dan yang ga kelupaan adalah foto-foto di tengah gelap bersama nyala lilin dan senter. woow seru deh hehehe.

Ayo kita selamatkan bumi dengan mematikan listrik yang tidak digunakan. Hijaukan kembali bumi kita untuk masa depan yang lebih baik :)

http://www.earthhour.org/indonesia





Ujian yang Sebenarnya

24 03 2009

Astaghfirullah, kemudian Alhamdulillah.

Kata itu terucap ketika gue melirik nilai hasil ujian blok 1 semester dua ini. Padahal di tahun sebelumnya alhamdulillah ujian dapat terlewati dengan baik dan hati yang tenang. Sekarang kenapa ya? Perlahan-lahan nilai-nilai gue menurun. Apa ada yang salah dengan cara belajar gue? Atau gue yang belum cukup pintar dan dewasa dalam membagi waktu? Aaah. Gue jadi stres sendiri. Gue cuma ga ingin ngecewain bapak dan bisa menjadi contoh buat adek2 gue. Tapi kesannya seperti gue tidak mensyukuri apa yang gue dapet. Tentunya dengan hasil kejujuran dan izin dari Allah. Kayanya gue terlihat rakus dengan perasaan ingin nilai ‘lebih’! Padahal apa yang telah gue peroleh pasti adalah yang terbaik. Tidak mungkin Allah ingin menjerumuskan hamba-Nya. Atau mungkin kegagalan ini merupakan ujian dari-Nya buat gue agar gue introspeksi diri dan menjadi lebih baik di ujian berikutnya? Semoga memang begitu. Menerima dengan ikhlas dan hati lapang atas segala pemberian dari Nya, juga selalu ikhtiar serta tawakkal. Sebaiknya gue menyadari ini adalah ujian yang sebenarnya sejak dini. Supaya ada perubahan ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Amin.

-introspeksi, optimis, tawakkal, ikhlas. Nas, kamu bisa!





bon anniversaire papa!

21 03 2009

SELAMAT ULANG TAHUN Ayahku tercinta :)

Semoga di usiamu yang ke-52 ini sehat-sehat selalu, dimudahkan segala urusannya oleh Allah, dan semakin sayang sama mama, mba nasha, mas ryan, dan mas ivan.

We are wishing you all special things that we will give you happy moments today and a lot of happy memories tomorrow.

Have a wonderful birthday my lovely Daddy !





FESTIVAL DRAMA

28 11 2008

tanggal 22 November 2008 kemarin, diadakan festival drama oleh guru bahasa Indonesia kelas XI IPA, Pak Mufid. Sebenernya dramanya diadakan dari tanggal 21, tapi, kelompok gue majunya tanggal 22 November. Judul drama kelompok gue: “FROM BATAVIA WITH LOVE” yang memang diadaptasi dari sebuah novel romantis karya M. Karla Nashar. Latiannya bener-bener parah. Hampir setiap hari pulang abis isya. bahkan waktu latian yang terakhir kalinya, kita latian di rumah sekar (sutradara) di daerah cempaka putih, sampe jam setengah 11 malem. paraaaaaaaah niaaan. susah senang kita hadapi bersama. hehehe..

akhirnya pas hari pementasan tiba, dan kondisi badan gue gga sehat. suara gue gga keluar, aaaargh!





Jadi Reporter Sehari (bagian 2)

30 09 2008

Alhamdulillah, gue masih bisa nulis lagi. Alhamdulillah sekarang udah malam takbiran looh!! Dan gue sekarang ada di rumah eyang gue-mudik, tepatnya di Bogor. Senang rasanya. mmm sebenernya sih, tulisan tentang lebaran dan mudik mau gue tulis sekarang, tapi berhubung cerita tentang wawancara-nya belum selesai, pengen deh nyelesain dulu, hahahahaa. abis, pengalaman ini cuma sekali dan mungkin nggak pernah bisa gue lupain. ahahahay.

Masih di tanggal yang sama, 16 September 2008. Masih puasa juga (alhamdulillah). Setelah sukses gue dan kawan2 wawancara Dude di lokasi syutingnya, tiba-tiba Sari dapet telepon dari mamanya. Katanya, Raffi lagi kosong dan siap buat diwawancarain. Yaudah deh, kesempatan emas gga boleh ditunda-tunda!! Kapan lagi dalam sehari bisa wawancarain 2 artis sekaligus. Raffi ngundang kita buat wawancara dia di Hotel Crown Plaza, di bilangan Semanggi. Sip, kita konfirmasi langsung sama Raffi, ternyata dia siap diwawancara jam setengah enam sore. Langsung deh kita jalan dari Jagakarsa menuju Semanggi. Seperti biasa, MACETT CETTT!! Muka Aji udah males banget, sementara Dadan asik dengerin radio. Sari, Banon, sama Pink, tertidur pulas. Gue? Ngelamun aja. Tiba-tiba gue dengerin iklan di radio Prambors, “Dapatkan diskon makan di Pokè Sushi, dengan sms ke Prambors ketik bla bla bla bla…” Ah, gue jadi inget, kalau gga salah di Crown Plaza itu ada restoran Pokè Sushi. Gue ngga pernah makan disitu sebelumnya, cuma kata nyokap gue yang diundang sama rekan-rekan kantornya bilang, enak banget. Akhirnya, sampe juga kita di Crown, setelah ber-stres ria karena macet. Kita setia nunggu Raffi di lobby dari jam 4 sore. Setiap 15 menit gue tengokin jam tangan gue. Ah, kok udah jam setengah 6 lewat, dia belum juga muncul? Apa lupa? Apa macet? 2 jam kita nunggu Raffi di lobby. Masih pake seragam putih abu-abu!! Bayangkan! Semua karyawan hotel dengan anehnya melayangkan tatapan mereka ke kita. Mungkin mereka berpikir, “Ih, anak skolahan, masih pake seragam. Mau ngapain mereka ke hotel? Jangan-jangan…….” Hiiiy, kita gga gitu kalee. Situ aja yang prasangka buruk. Kita ketawa-ketawa kayak anak ilang yang tersesat di hotel. Sampe ada satpam yang nanya, “Mau ngapain dek?” Dengan tatapan menginterogasi. “Kita mau wawancara Raffi kok, tadi udah janjian, Pak!” Dibales dengan nada menantang. huehehehe.

Jam enam lewat sepuluh menit. Sedari tadi bedug sudah bertalu. Seteguk air pun belum dirasakan. AH, lamanyaaa. Akhirnya, stelah mendekati pukul setengah tujuh, sesosok jangkung itu muncul. Yep, affi akhirnya datang. Ternyata kita gga bisa langsung wawancara, dia ada reading buat acara ceriwis malam takbiran. Yaaaah… lama lagi deh kita nunggu ;(. Perut keroncongan. Tenggorokan rasanya kering kerontang. Entah suara perut siapa yang kedengeran, tiba-tiba asistennya Raffi datengin kita dan ngajakin kita makan. Taukah makan dimana? poké sushi. ditraktir Raffi. Alhamdulillah,, rejeki emang nggak kemana…. Dengan jaimnya kita makan, dan malu-malu kucing menyantap hidangan yang diantar oleh pelayan. Semua pengunjung restoran bingung ngeliat kita-anak SMA yang masih pake seragam, bermuka lusuh dan kusut. Makan di sana cukup menegangkan. Kita lihat daftar harganya, anpip! Gilaa mahal beneeeeer. Kita semua waswas. Bener nih kita ditraktir? Masing2 pada ngecek dompet, dan ternyata hanya dua puluh ribuan meliuk indah didalamnya. mana cukuup??! Belum lagi asistennya Raffi yang keluar masuk restoran, bikin kita keki. hha. Si Dadan pake kasih aba2 buat kabur lagi. Pasrah aja, lillahi ta’ala. kalo akhirnya kita emangharus bayar sendiri2, siap2 deh buat nyuci piring di dapur restoran. Asisten Raffi biilang, kita baru bisa wawancara dia jam 8 atau setengah sembilan, di sela2 dia break. Paraaah. Pulang jam berapa kita? Tampang Aji murung lagi, udah bete setengah mati agaknya. Masalahnya, kita kan nebeng mobil dia. Jadi gga enak, kan.

Jam 8 lewat lima belas. ALhamdulillah, Raffi akhirnya break. Kita segera wawancara dia, tanpa banyak basa-basi. Ternyata Raffi orangnya ramah dan asik diajak ngobrol. Sama sekali nggak jaim dan terbuka. Berikut cuplikan wawancara tim kami dengan Raffi:

T: Selain akting, kan nyanyi juga, pernah main band?

J: Dulu gue ada band, nama Band-nya, Bencong Band. [serius tuh? oh, katanya sih itu band di radio]

T: Kan gabung di BBB, ngga nyoba album solo?

J: album Solo, mmm. Jogja boleh, Bali boleh,… (hening) ahahahaha. (Raffi terkekeh sendiri) [kita masih mencerna apa maksudnya.]

  

Yaah, sekian kisah perjalanan kami 6 anak manusia, mengejar-ngejar artis untuk memenuhi tugas sekolahnya. Terima kasih atas perhatiannya ahaha. Selamat Lebaran !! Mohon maaf lahir dan batin yaaaaaa. Jangan lupa oleh2nya ya.





Jadi Reporter Sehari [bagian 1]

28 09 2008

Niatnya mau tiap hari nulis, malah sebulan sekali ya, hehehe. Oh iya, sekarang uda mau Lebaran nih, ga kerasa! (kemane aja lo. wkwk). Bingung mau tulis apa. Yah, cerita pas gue wawancara artis aja ya. hehe ; )

16 September 2008, gue merasa itu adalah hari terpanjang gue. Hal ini berawal karena guru bahasa Indonesia, Pak Mufid, memberikan tugas “wawancara publik figur”. Kelompok gue (yang terdiri dari Banon, gue, Pink, Sari, Aji, Dadan), rencananya mau wawancarain Dude Herlino. Awalnya gue sempet ragu. Bisa nggak ya wawancarain dia? Secara dia juga lagi sibuk sama sinetronnya, “Aqso Dan Madina“. Alhamdulillah Sari yang ibunya kerja di majalah Gadis, punya nomor teleponnya Dude. Dude-nya udah mau kita wawancarain hari Selasa, tiba-tiba jam 12an dia sms Sari kalau ternyata dia gga bisa. Air muka Sari mendadak berubah. Sari langsung menghubungi Dude berkali-kali. Teleponnya nggak diangkat !!!! Paniklah kita. Tapi Dadan dan Aji mah seneng2 aja ga jadi, haha. Nggak lama, Sari telepon Dude lagi dan dengan sedikit “paksaan” (lohh??) akhirnya Dude mau kita wawancara. Kita disuruh dateng ke lokasi syuting-nya, di JL. Paso no 10 Jagakarsa, Jaksel. “Sekarang ya!” Pinta Dude. Ya, dia cuma sampe jam 3 sore di sana, abis itu ada scene lagi adegan di supermarket. astagfiruloh..

Perjalanan dimulai pukul 1 siang (tepat pulang sekolah; puasa2, panas2, demi Dude. haha lebay). alhamdulillah Aji bawa mobil, jadi bisa lebih cepat. Tiba di lokasi syuting, kita diinterogasi sama para crew sinetronnya Dude. “Kita udah janjian sama Dude, kok!” Tegas Sari mantap. Masuklah kita ke dalam rumah yang jadi tempat syuting-nya Dude. Dari samping muncul sosok cowok, yang kata ibu-ibu tetangga gue sih, kasep pisan. Yap, Dude. Pandangan pertama sih, menurut gue gga ganteng2 banget.. hehe (maaf ya Dude!). Putih banget iya, apa itu efek make-up yaa? Langsung aja nggak pake banyak cingcong, kita langsung wawancara Dude. Kameramen siap, fotografer siap, reporter siap. Sebel juga sih, setiap 15 menit wawancara, pasti Dude ada scene. Yaudah deh, kita yang bengong kayak sapi ompong nungguin dia. Sekalian pada pasang tampang manis, siapa tau dilirik produsernya buat main film? ahahahaha. Ada yang lucu dari wawancara sama Dude. Berkali-kali dia mencoba untuk buat guyonan supaya suasana wawancara nggak tegang, tapi semua itu nggak berhasil. Berikut beberapa hasil wawancara yang gue kutip secara singkat (lebih lengkapnya ada di vinka):

T: Apa arti nama Dude Harlino?

J: Mmm Dari Bahasa Romawi….(mikir lama), nggak ada sih.[gubrakk!] Tapi Dude itu Dua Desember.

T: Hobinya apa?

J: Baca Buku

T: Suka musik yang seperti apa?

J: Semua lagu POP saya suka

T: Kalau ditawarin nyanyi mau nggak?

J: Mau sih, tapi sekarang baru berani nyanyi di depan kucing saya [lah?]

T: Kalau mau, bakal bawain jenis lagu apa?

J: Saya sih, Dangdut Keroncong…….. mm ya nggak lah ya, gga mungkin. hehehe (sambil terkekeh sendiri). [oh dia mau melucu]

     

Sebenarnya masih banyak dialog-dialog yang mengundang tawa dan tangis, tapi ternyata tangan gue ggak sanggup buat nulis (pegaal). Lagian udah lama juga gue make internet, jebol deh. Nah, abis ini masih ada lagi perjuangan enam orang anak menggapai mimpi mereka (et dah) untuk memperoleh nilai 100 dalam tugas wawancara publik figur. Doakan kami teman..

bersambung ke “Jadi Reporter Sehari [bagian 2]“








Suivre

Get every new post delivered to your Inbox.